Perhitungan Kebutuhan Benih Kacang Tunggak

Perhitungan Kebutuhan Benih Kacang Tunggak

Benih Kacang Tunggak

Benih dapat dibilang input terpenting dalam budidaya pertanian

Tanpa benih yang berkualitas tidak akan diperoleh hasil panen yang baik. Kualitas benih baru bisa diketahui ketika benih tersebut ditanam dan kemudian tumbuh (Anonim, 2007).

Petani sejak dahulu biasa memproduksi bibitnya sendiri. Dengan memakai indukan yang jelas diketahui sifat-sifatnya, petani memproduksi benih secara mandiri menggunakan teknologi dan metode tradisional yang mereka kembangkan sendiri (Anonim, 2007).

Dalam pertanian perlu adanya penggunaan bibit yang unggul agar hasil yang diperoleh juga tinggi. Benih unggul yang diperoleh dari varietas hasil pemuliaan tanaman disebut dengan benih penjenis, misalnya klon, galur-galur murni atau varietas hibrida. Benih yang telah diperoleh harus dijaga agar susunan genetisnya tidak berubah (Setyati, 1991).

Faktor lingkungan memegang peranan penting dalam perkecambahan, karena untuk mampu berkecambah benih memerlukan kondisi media tanam yang lembab. Kondisi ini akan merangsang munculnya akar utama yang akan diikuti oleh pergerakan lain sampai menjadi bibit. Dalam meningkatkan keberhasilan dan waktu berkecambah lebih cepat, penggunaan zat pengatur tumbuh dapat dilakukan. Secara umum beberapa kasus perkecambahan meningkat sampai 100% dan benih dapat berkecambah lebih cepat 4 – 5 hari dari normalnya (Anonim, 2008).

Daya berkecambahnya benih diartikan sebagai mekar dan berkembangnya bagian-bagian penting dari suatu embrio suatu benih yang menunjukkan kemampuannya untuk tumbuh secara normal pada lingkungan yang sesuai. Dengan demikian pengujian daya kecambah benih ialah pengujian akan sejumlah benih, berupa persentase dari jumlah benih tersebut yang dapat atau mampu berkecambah pada jangka waktu yang telah ditentukan (William, 1991).

Kacang Tunggak

Kacang tunggak (Vigna unguiculata) merupakan jenis tanaman kacang-kacangan yang sudah dikenal di Indonesia. Keunggulan kacang tunggak antara lain mudah dibudidayakan serta toleran terhadap kekeringan, hama dan penyakit (Purwani dan Santosa, 1995).

Biji kacang tunggak yang memiliki densitas besar, lebih tahan dalam proses pengupasan (dehulling) kulit sehingga rendemen yang dihasilkan lebih tinggi dibandingkan biji kacang tunggak yang memiliki densitas rendah (Purwani dan Santosa, 1994).

Pengupasan kulit dapat dilakukan dengan cara menumbuk kasar (secara tradisional dengan alu) kemudian menampinya. Pada skala yang lebih besar (industri rumah tangga) dapat digunakan mesin pengupas kulit (Ngarmsak, 1991).

Tanaman kacang tunggak

Tanaman kacang tunggak tahan terhadap kekeringan, sehingga cocok dikembangkan di lahan kering (tegalan) dan lahan sawah tadah hujan, dibandingkan dengan jenis kacang-kacangan lainnya. Tanaman kacang tunggak memiliki kelebihan, yaitu dapat tumbuh diberbagi jenis tanah, termasuk tanah yang asam dan kering. namun, kondisi tanah yang paling ideal bagi pertumbuhan kacang tunggak adalah tanah yang porus, banyak mengandung bahan organik (humus), dapat menahan kelembapan tanah, dan mempunyai pH tanah 5,5 – 6,5 (Rukmana dan Oesman, 2000).

Tanaman kacang

Respon tanaman kacang tunggak terhadap pupuk Nitrogen (N) sangat tinggi. Pemberian pupuk N yang berlebihan terutama pada tanah yang subur dapat menyebabkan bakteri Rhizobium yang pada mulanya bersifat simbiosis mutualistik, berubah menjadi simbiosis parasitis sehingga menyebabkan produksi kacang tunggak menurun (Anonim, 2009).

 

Sumber :https://lahan.co.id/