JAS UIN Bandung Gelar Diskusi Angkatan Sastra Awal

JAS UIN Bandung Gelar Diskusi Angkatan Sastra Awal

JAS UIN Bandung Gelar Diskusi Angkatan Sastra Awal

Salah satu komunitas sastra Universitas Islam Negeri (UIN) Bandung,

Jaringan Anak Sastra (JAS) gelar diskusi kesusastraan membahas tentang angkatan Sastra Awal oleh Tabah Hikam F. A yang dimoderatori oleh Adew, keduanya merupakan anggota baru JAS 2017.

Menurut ketua JAS, Ryan Zulkarnaen hal ini dilakukan adalah untuk media pembelajaran bagi anggota baru agar terus melek literasi dan kemudian menumbuhkan kultur diskusi untuk menambah wawasan juga. Nantinya setiap anggota baru bergiliran untuk menjadi pemateri dengan tema yang berbeda.

JAS produktif melakukan diskusi reguler dan proses kreatif untuk merawat kazanah

kesusastraan Indonesia, khususnya UIN Bandung. Diskusi tersebut digelar setiap Selasa dan Rabu di selasar perpustakaan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan atau populer disebut DPR (Di bawah Pohon Rindang) pada jam 6 sore sampai sekitar jam 9 malam.

Angkatan Sastra Awal dijelaskan lahir di Indonesia sejak 1837 namun secara resmi diperiodisasikan sejak 1900-an sampai 1920. Pada zaman tersebut sastra Indonesia masih menggunakan bahasa Melayu rendah Tionghoa dan bahasa Melayu rendah bukan Tionghoa. Pada masa ini kontribusi Tionghoa terhadap angkatan Sastra Awal memiliki peran penting dalam sejarah kesusastraan Indonesia. Sastra periode 1900-an memiliki persoalan kultur penggunaan bahasa dalam karya sastra itu sendiri.

“Cerita-cerita bahasa melayu rendah banyak yang hidup dalam masyarakat pada 1900-an

cerita yang terknal misalnya, Nyai Dasimah, Rosina, Si Conat, Bunga Ros dari Cikembang, dan sebagainya,” tutur Hikam.

Diskusi kesusastraan ini berlangsung efektif dan efisien meski diselingi beberapa guyonan dari kawan-kawan penyair UIN Bandung, hal itu tidak membuat mahasiswa yang hadir urung dalam memberikan argumentasi, seperti beberapa tambahan yang dilontarkan oleh Ilham Najib terkait bahasan tersebut menurut dirinya, “Jadi, pada babak itu belum ada yang namanya puisi, yang ada hanyalah dongeng, petuah, mitos, dan lain-lain yang karyanya masih anonymous.”

Meski diskusi dilaksanakan di ruang terbuka dan hujan turun malam itu, proses diskusi terus berlanjut sampai akhir.

 

Sumber :

https://s.id/67tki