Dialog Kesejarahan untuk Tingkatkan Kesadaran Sejarah

Dialog Kesejarahan untuk Tingkatkan Kesadaran Sejarah

Dialog Kesejarahan untuk Tingkatkan Kesadaran Sejarah

Kemendikbud — Untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya sejarah

, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Direktorat Jenderal (Ditjen) Kebudayaan menggelar dialog kesejarahan dengan tema “Sang Merah Putih: Sejarah dan Maknanya” di Plasa Insan Berprestasi Kemendikbud Jakarta (14/11/2017).

Direktur Jenderal (Dirjen) Kebudayaan Hilmar Farid dalam sambutannya menyampaikan tentang sisi pentingnya mempelajari sejarah bagi anak-anak. “Di dalam pelajaran sejarah bukan membuat anak-anak menghafal masa lalu. Yang paling penting adalah mengembangkan kesadaran sejarah, sadar betul bahwa yang kita nikmati hari ini adalah produk perjalanan masa lalu,” tutur Hilmar.

Selanjutnya, sejarawan Bonnie Triyana menjelaskan bahwa belajar sejarah

bukan hanya sekedar menerima pelajaran saja, tetapi tentang bagaimana berpikir kritis.

“Tujuan utama belajar sejarah itu memang bukan hanya sekadar menerima yang benar yang mana, tapi lebih kepada meningkatkan daya kritis dari siswa utnuk mengetahui sebab musababnya peristiwa,” jelasnya.

Mengangkat tema bendera kebangsaan, Direktur Sejarah Triana Wulandari menjelaskan bahwa bendera merah putih pun memiliki makna yang lebih substansial dari sekadar makna sebuah bendera negara. “Penulisan sejarah Indonesia belum memberi porsi lebih banyak pada tema bendera. Padahal bendera bisa hadir pada peta sejarah yang lebih luas, pun berperan positif untuk menciptakan paradigma zaman ketika mampu mempresentasikan kondisi aktual dan faktual masyarakat,” jelasnya.

Selain Bonnie, dialog yang berlangsung selama satu jam ini, dihadiri oleh putra kedua

pahlawan nasional Bung Tomo, Bambang Sulistomo dan pengajar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Saras Dewi sebagai narasumber. Kegiatan ini menjadi langkah positif yang coba ditempuh dalam rangka meningkatkan pemahaman masyarakat luas dalam konteks karakter kebangsaan. Diharapkan kegiatan ini menjadi pematik kesadaran revitalisasi nilai-nilai kebangsaan sebagai jiwa bangsa yang mendasari seluruuh keidupan Indonesia sebagai sebuah entitas kebangsaan. (Astrid/Aji Shahwin).

 

Baca Juga :